Skip to main content

Newest released

The Trunk by Kim Ryeo-ryeong #BookReview - The Books of Ours

#NickReads Trunk by Kim Ryeo-ryeong Identitas Buku Penulis: Kim Ryeo-ryeong Penerbit: Gramedia Pustaka Utama Penerjemah: Iingliana Editor: Juliana Tan Ilustrasi Sampul: Staven Andersen Tebal Buku: 296 hlm ISBN: 9786020681030 ISBN Digital: 9786020681047 Fakta Menarik! Novel karya Kim Ryeo-ryeong ini telah diadaptasikan menjadi seri melodrama thriller oleh Netflix pada tahun 2024. Novel ini diadaptasi menjadi delapan episode yang keseluruhannya memiliki rating 7/10 oleh IMDb. Mari Kita Ulas! Koper — Cerita diawali dengan kisah karakter utama yang bernama Noh In-ji yang berumur 29 tahun, bekerja di sebuah perusahaan biro jodoh yang bernama New Wedding. Perusahaan biro jodoh ini bukan perusahaan pencari pasangan biasa atau pasangan waktu senggang (pacar). Namun, perusahaan biro jodoh ini menyediakan jasa pencarian pasangan untuk berumah tangga melewati proses pernikahan atau dengan kata lain ‘perkawinan kontrak.’  Klien-klien dari perusahaan ini biasanya adalah orang-orang yang sudah t...

50 to 20: Pesan dari Paruh Perjalanan by Henry Manampiring #BookReview - The Books of Ours

 #NoraReads

50 to 20: Pesan dari Paruh Perjalanan

Identitas Buku

Penulis: Henry Manampiring

Penerbit: PT Kompas Media Nusantara

Editor: Novka Kuaranita & Septi Ws

Desain sampul: Nicholas Vallen

Ilustrasi isi; Henry Manampiring

Desain isi: Wiko

ISBN: 978-623-523-270-6

ISBN digital: 978-623-523-271-3 (PDF)


Fakta Menarik

Buku ini ditulis berdasarkan kisah hidup nyata sang penulis, Henry Manampiring, dengan membandingkan perjalanan hidupnya pada usia 20 tahun (masa perkuliahan) dan saat berusia 50 tahun pada tahun 2024. Perjalanan tersebut menjadi sebuah blueprint kehidupan yang dapat dipetik dan dijadikan pelajaran oleh para pembacanya. 


Mari Kita Ulas

50 to 20: Pesan dari Paruh Perjalanan


“Waktu adalah kekuatan yang tidak bisa dilihat dan disentuh, tetapi paling tidak bisa dihentikan. Air bah bisa ditahan dam. Angin taifun takluk pada konstruksi gedung beton dan baja. Gempa bumi dihadapi oleh desain gedung terkini. Kita masih bisa berlindung dari ledakan bom atom di dalam bunker bawah tanah. Tetapi waktu? Good luck mencoba lolos darinya. Ia tidak mengenal tameng, pintu, firewall, atau tembok. Seberapa dalamnya kamu masuk ke dalam lubang tambang, waktu akan menunggumu di dasar terdalam. Seberapa tingginya kamu pergi meninggalkan galaksi waktu selalu ada di sisi.”

Begitu yang dikatakan oleh sang penulis dalam pembuka bukunya. Konsep waktu menjadi “tamu” yang selalu singgah di beranda benaknya setiap kali merayakan ulang tahun, terlebih saat ia menginjak usia ke-50. Di usia tersebut, penulis memutuskan untuk merayakan setengah abad perjalanan hidupnya dengan menuliskan satu pelajaran untuk setiap tahun yang telah ia jalani. Artinya, terdapat 50 pelajaran berharga yang dibagikan dalam buku ini.

Menurutku, salah satu kekuatan utama buku “50 Things I Wish I Knew at 20” adalah cara Henry Manampiring menyampaikan pengalaman hidupnya dengan sangat personal dan jujur. Aku benar-benar bisa merasakan konektivitas antara pembaca dan penulis karena pesan-pesan yang dituangkan terasa hangat dan menenangkan, seolah mengatakan bahwa semua akan baik-baik saja pada akhirnya. Setiap akhir dari satu pembelajaran selalu meninggalkan hikmah yang relevan untuk pembaca usia 20-an, meskipun keseluruhan narasinya benar-benar terasa seperti percakapan dari Henry yang berusia 50 tahun kepada dirinya sendiri di usia muda, dengan sudut pandang orang pertama.

Pelajaran yang paling bisa aku petik dari buku ini adalah tentang keikhlasan menjalani hidup dengan segala lika-likunya, serta pentingnya bersyukur dalam kondisi apa pun yang sedang dialami. Buku ini juga mengingatkanku bahwa tidak semua hal harus berjalan sempurna sesuai rencana, karena sering kali proses gagal, kecewa, atau tersesat justru menjadi bagian penting dalam pendewasaan diri. Setidaknya, itulah pesan yang paling aku rasakan setelah membaca buku ini: bahwa hidup mungkin tidak selalu mudah, tetapi semuanya akan menemukan jalannya sendiri seiring waktu.

Hal lain yang sangat aku highlight adalah bagaimana penulis menekankan pentingnya menjaga tubuh dan kesehatan sejak muda. Tubuh digambarkan sebagai investasi jangka panjang untuk masa tua nanti, sehingga apa yang kita lakukan terhadap diri sendiri hari ini akan sangat menentukan kualitas hidup di masa depan. Selain itu, buku ini juga memberi perspektif bahwa usia 20-an bukan tentang harus langsung sukses, melainkan tentang belajar mengenal diri sendiri, membangun kebiasaan baik, dan memahami bahwa hidup adalah perjalanan panjang yang tidak perlu dijalani dengan terburu-buru.

Rating Dariku

3.5/5 ⭐

English Version 

Fun Fact
This book is based on the real-life story of the author, Henry Manampiring, comparing his journey at the age of 20 (his college years) with himself at the age of 50 in 2024. Through these reflections, the book becomes a life blueprint that readers can learn valuable lessons from.

Here Comes the Review
50 to 20: Pesan dari Paruh Perjalanan

“Time is a force that cannot be seen or touched, yet it is the one thing that cannot be stopped. Floods can be restrained by dams. Typhoon winds surrender to concrete and steel buildings. Earthquakes are faced with modern architectural designs. We can still hide from atomic bomb explosions in underground bunkers. But time? Good luck trying to escape it. It recognizes no shield, door, firewall, or wall. No matter how deep you go into a mine, time will wait for you at the deepest point. No matter how far you travel beyond galaxies, time will always remain by your side.”

That is what the author says in the opening of his book. The concept of time becomes a “guest” that constantly visits his mind whenever he celebrates his birthday, especially when he turned 50. At that age, he decided to celebrate half a century of life by writing down one lesson for every year he had lived. This means there are 50 valuable lessons shared throughout the book.

In my opinion, one of the greatest strengths of 50 to 20: Pesan dari Paruh Perjalanan is the way Henry Manampiring delivers his life experiences in such a personal and honest manner. I could truly feel the connection between the reader and the writer because the messages felt warm and comforting, as if reminding us that everything will eventually be okay. Every lesson leaves behind meaningful wisdom that feels relevant for people in their 20s, even though the entire narrative genuinely feels like a conversation from 50-year-old Henry to his younger self, written in a first-person perspective.

The biggest lesson I personally took from this book is about embracing life sincerely with all its ups and downs, while continuing to be grateful no matter the circumstances. This book also reminded me that not everything has to go perfectly according to plan, because failure, disappointment, and feeling lost are often essential parts of personal growth. At least, that was the message I felt most strongly after reading this book: life may not always be easy, but eventually, everything will find its way in time.

Another point that really stood out to me was how the author emphasizes the importance of taking care of our bodies and health from a young age. Our bodies are portrayed as long-term investments for old age, meaning that the way we treat ourselves today will greatly determine our quality of life in the future. Beyond that, this book also offers the perspective that your 20s are not about becoming instantly successful, but about learning to understand yourself, building good habits, and realizing that life is a long journey that does not need to be rushed.

My Rating
3.5/5 ⭐


Comments