Newest released

Perempuan yang Menangis kepada Bulan Hitam by Dian Purnomo #BookReview - The Books of Ours

 #NoraReads

Novel Perempuan yang Menangis kepada Bulan Hitam

Identitas Buku

Penulis: Dian Purnomo

Penerbit: Gramedia Pustaka Utama

Editor: Ruth Priscilia Angelina

Penyelia Naskah: Bella Ansori

Foto: Dian Purnomo dan Ilham Octaperdana

Penata Letak: Bayu Deden Priana

ISBN: 978-602-06-4845-3

ISBN: 978-602-06-4846-0 (PDF)


Fakta buku ini

Buku ini tidak hanya memaparkan penderitaan batin korban, tetapi juga menyoroti bagaimana budaya yang diwariskan turun-temurun ini dapat merusak martabat dan kebebasan perempuan. 


Mari kita ulas

Perempuan yang Menangis kepada Bulan Hitam — merupakan novel yang terinspirasi dari praktik kawin tangkap di Sumba, Nusa Tenggara Timur. Cerita mengikuti Magi Diela, seorang perempuan yang menjadi korban tradisi tersebut dan berjuang mendapatkan kembali hak atas hidupnya di tengah tekanan adat, keluarga, dan masyarakat. Berlatar budaya Sumba yang kuat, novel ini memperlihatkan benturan antara pelestarian tradisi dan hak asasi manusia.


Terinspirasi dari peristiwa nyata yang sempat menjadi sorotan di Indonesia, novel ini menggambarkan dampak kawin tangkap terhadap korban, baik secara fisik maupun psikologis. Bagaimana jika sebuah kekerasan justru dianggap sebagai sesuatu yang biasa? Melalui kisah Magi, Dian Purnomo mengangkat isu tersebut menjadi cerita yang mengajak pembaca memahami sisi kemanusiaan di balik sebuah tradisi.


Opiniku

Halaman-halaman awal buku ini terasa sangat memicu emosi dan benar-benar membuat hati meringis. Sulit rasanya untuk tidak marah melihat apa yang dialami Magi Diela, terlebih ketika menyadari bahwa kisah ini terinspirasi dari praktik yang benar-benar pernah dialami oleh perempuan-perempuan di Sumba. Novel ini memperlihatkan bagaimana perempuan dipandang sebagai objek dalam sistem adat tertentu, menjadi alat pertukaran antar keluarga dan penerus keturunan, sementara laki-laki ditempatkan pada posisi yang lebih berkuasa.


Gaya penulisan Dian Purnomo terasa tajam, lugas, dan penuh emosi. Setiap adegan mampu menyampaikan ketakutan, kemarahan, hingga keputusasaan para tokohnya dengan begitu kuat, sehingga aku ikut merasakan beban yang mereka alami sepanjang cerita.


Rating dariku

5/5 ⭐


English Version


Book Fact

This novel not only explores the emotional suffering of its victim but also highlights how a tradition passed down through generations can undermine women's dignity, autonomy, and freedom.


Here Comes the Review

Perempuan yang Menangis kepada Bulan Hitam is a novel inspired by the practice of bride kidnapping in Sumba, East Nusa Tenggara. It follows Magi Diela, a young woman who becomes a victim of the tradition and struggles to reclaim control over her own life while facing pressure from her family, local customs, and society. Set against the rich cultural backdrop of Sumba, the novel explores the tension between preserving tradition and protecting human rights.


Inspired by real events that once drew national attention in Indonesia, the story illustrates the physical and psychological impact of bride kidnapping on its victims. What happens when violence is accepted as something ordinary? Through Magi's journey, Dian Purnomo invites readers to look beyond tradition and recognize the human cost behind it.


My Thoughts

The opening chapters are incredibly triggering and absolutely heartbreaking. It was impossible not to feel angry about everything Magi Diela had to endure, especially knowing that the story is inspired by a practice that has affected real women in Sumba. The novel shows how, within certain traditional systems, women are treated as objects, exchanged between families, and expected to bear children, while men are placed in positions of power.


Dian Purnomo's writing is sharp, straightforward, and deeply emotional. Every scene captures the fear, anger, and despair of the characters so vividly that I found myself feeling the weight of everything they went through.


My Rating

5/5⭐



Comments