Skip to main content

Newest released

Perempuan yang Menangis kepada Bulan Hitam by Dian Purnomo #BookReview - The Books of Ours

  #NoraReads Novel Perempuan yang Menangis kepada Bulan Hitam Identitas Buku Penulis: Dian Purnomo Penerbit: Gramedia Pustaka Utama Editor: Ruth Priscilia Angelina Penyelia Naskah: Bella Ansori Foto: Dian Purnomo dan Ilham Octaperdana Penata Letak: Bayu Deden Priana ISBN: 978-602-06-4845-3 ISBN: 978-602-06-4846-0 (PDF) Fakta buku ini Buku ini tidak hanya memaparkan penderitaan batin korban, tetapi juga menyoroti bagaimana budaya yang diwariskan turun-temurun ini dapat merusak martabat dan kebebasan perempuan.  Mari kita ulas Perempuan yang Menangis kepada Bulan Hitam — merupakan novel yang terinspirasi dari praktik kawin tangkap di Sumba, Nusa Tenggara Timur. Cerita mengikuti Magi Diela, seorang perempuan yang menjadi korban tradisi tersebut dan berjuang mendapatkan kembali hak atas hidupnya di tengah tekanan adat, keluarga, dan masyarakat. Berlatar budaya Sumba yang kuat, novel ini memperlihatkan benturan antara pelestarian tradisi dan hak asasi manusia. Terinspirasi dari per...

Breasts and Eggs by Mieko Kawakami #BookReview - The Books of Ours

 #NoraReads
Breasts and Eggs book by Mieko Kawakami

Identitas Buku
Penulis: Mieko Kawakami
Penerjemah: Sam Bett dan David Boyd
ISBN: 978-1-5290-7441-3
Penerbit: Picador

Fakta Menarik
Salah satu fakta menarik dari novel ini adalah kisahnya terbagi menjadi dua bagian berbeda. Bagian pertama berfokus pada Makiko yang terobsesi melakukan operasi pembesaran payudara karena merasa tubuhnya mulai menua, sementara putrinya, Midoriko, memilih mogok bicara dan hanya menuliskan keresahannya tentang kelahiran dan penderitaan manusia di buku catatan. Di bagian kedua, sang tokoh utama, Natsuko, berjuang untuk memiliki anak tanpa harus menikah atau menjalin hubungan romantis dengan pria, sehingga ia harus menghadapi proses inseminasi buatan yang rumit.

Mari Kita Ulas
Breasts and Eggs (Natsumonogatari) – ditulis menjadi dua bagian, Bagian pertama berfokus pada Makiko, kakak dari tokoh utama, yang terobsesi melakukan operasi pembesaran payudara demi mempertahankan kecantikannya di tengah usia yang terus bertambah dan pekerjaannya sebagai hostes. Di sisi lain, hubungan Makiko dengan putrinya, Midoriko, terasa begitu dingin dan penuh jarak. Midoriko tiba-tiba memilih berhenti berbicara dan hanya menuangkan isi pikirannya melalui buku catatan, berisi kegelisahan tentang tubuh perempuan, pubertas, hingga makna kelahiran.
Memasuki bagian kedua, cerita beralih kepada Natsuko, seorang perempuan menjelang usia 40 tahun yang mulai dihantui kesepian dan keinginan untuk memiliki anak tanpa harus menjalin hubungan romantis dengan laki-laki. Dari sinilah novel berkembang menjadi pembahasan yang lebih luas mengenai patriarki, relasi pertemanan yang toksik, tekanan sosial terhadap perempuan, hingga isu donor sperma yang ingin ditempuh Natsuko demi memenuhi keinginannya menjadi seorang ibu.

Opiniku
Menurutku, novel ini termasuk buku yang sempat membuatku terjebak reading slump. Padahal isu yang diangkat sangat menarik, sensitif, dan terasa relevan, terutama tentang bagaimana perempuan memandang tubuh, cinta, dan pilihan hidupnya sendiri. Namun, gaya penulisan Mieko Kawakami yang sangat detail dan reflektif membuat pembaca seolah benar-benar diajak masuk ke dalam isi kepala setiap karakternya. Di satu sisi terasa intim dan realistis, tetapi di sisi lain cukup menguras energi saat dibaca dalam waktu lama.

Meski begitu, hal yang paling aku sukai dari novel ini adalah bagaimana Natsuko ditulis dengan sangat manusiawi. Ia kesepian, sering overthinking, merasa tertinggal dari orang lain, bahkan kerap merasa hidupnya berjalan di jalur yang berbeda dari kebanyakan orang. Perasaan left out of society itu terasa begitu nyata dan mungkin akan sangat relate bagi banyak pembaca dewasa yang sedang mempertanyakan arah hidup mereka sendiri.

Sepanjang cerita, pembaca diajak mengikuti berbagai persoalan yang berkaitan dengan feminisme dan posisi perempuan dalam masyarakat modern. Novel ini menyoroti bagaimana perempuan sering kali menghadapi standar ganda dalam banyak aspek kehidupan, mulai dari penampilan fisik, pilihan hidup, hingga keputusan mengenai tubuh mereka sendiri. Melalui pengalaman para tokohnya, terutama Natsuko, Mieko Kawakami mengajak pembaca merenungkan tekanan sosial yang kerap membatasi kebebasan perempuan untuk menentukan jalan hidupnya.

Selain itu, salah satu konflik yang paling menarik adalah pergulatan batin Natsuko mengenai keinginannya untuk memiliki anak melalui donor sperma. Keputusan tersebut tidak pernah digambarkan secara sederhana. Sebaliknya, Natsuko terus berada dalam posisi maju mundur antara keinginannya menjadi seorang ibu dan berbagai pertanyaan moral, sosial, serta emosional yang menyertainya. Kontemplasi yang panjang ini membuat novel terasa begitu reflektif karena menghadirkan beragam sudut pandang mengenai keluarga, reproduksi, dan makna menjadi seorang perempuan di tengah tuntutan masyarakat yang terus berkembang.


Rating Dariku
4.5/5 ⭐

English Version

Funfact
One of the most interesting things about this novel is that it is divided into two different parts. The first part focuses on Makiko, who becomes obsessed with getting breast augmentation surgery because she feels that her body is aging, while her daughter, Midoriko, suddenly stops speaking and chooses to express her thoughts through a notebook filled with questions about birth, womanhood, and human suffering. In the second part, the main character, Natsuko, struggles with her desire to have a child without getting married or being romantically involved with a man, leading her to consider the complicated process of sperm donation and artificial insemination.

Here Come the Review
Breasts and Eggs (Natsumonogatari) is written in two distinct parts. The first part centers on Makiko, the older sister of the protagonist, who is deeply obsessed with breast augmentation surgery as a way to preserve her beauty while growing older and continuing her work as a hostess. At the same time, her relationship with her daughter, Midoriko, feels distant and emotionally strained. Midoriko suddenly refuses to speak and instead pours all of her thoughts into a notebook, reflecting on puberty, the female body, and the meaning of being born as a woman.

The second part shifts to Natsuko, a woman approaching her forties who struggles with loneliness and the desire to have a child without entering a romantic relationship with a man. From there, the novel expands into broader discussions about patriarchy, toxic friendships, social pressure toward women, and sperm donation as Natsuko searches for a way to become a mother on her own terms.

Throughout the novel, readers are presented with a range of issues surrounding feminism and the position of women in contemporary society. The story highlights the double standards that women often face in various aspects of life, from physical appearance and personal choices to decisions regarding their own bodies. Through the experiences of its characters, particularly Natsuko, Mieko Kawakami encourages readers to reflect on the social pressures that frequently limit women's freedom to shape their own lives.

One of the most compelling aspects of the novel is Natsuko's internal struggle over her desire to have a child through sperm donation. Rather than presenting the issue as a straightforward choice, the story explores her constant back and forth deliberation as she weighs her longing for motherhood against the moral, social, and emotional questions that accompany such a decision. This ongoing contemplation gives the novel a deeply introspective quality, offering thoughtful discussions about family, reproduction, and what it means to be a woman in a rapidly changing world.

My Opinion
In my opinion, this novel was one of the books that pushed me into a reading slump. The issues it explores are actually very interesting, sensitive, and highly relevant, especially regarding how women view their bodies, love, and life choices. However, Mieko Kawakami’s writing style is extremely detailed and reflective, making readers feel as though they are constantly wandering through each character’s thoughts and emotions. At times, it feels intimate and realistic, but it can also become emotionally exhausting to read for long periods.

Still, what I loved most about this novel was how human Natsuko feels as a character. She is lonely, constantly overthinking, often feels left behind by others, and struggles with the feeling that her life is moving in a completely different direction from everyone else’s. That sense of feeling left out of society feels painfully real and may resonate deeply with many adult readers who are still questioning where their lives are headed.

My Rating
4.5/5 ⭐


Comments