Newest released
- Get link
- X
- Other Apps
No Longer Human by Osamu Dazai #Book Review - The Books of Ours
Identitas Buku
Penulis: Osamu Dazai
Penerjemah: Nurafifah
Penyunting: Lis S
Tata Letak: Husni Kamal
Desain Sampul: Hastapea
Penerbit: Sigma Publishing
Fakta Buku Ini
No Longer Human diterbitkan pada tahun 1948, hanya sekitar satu bulan setelah Dazai meninggal dunia akibat bunuh diri bersama pasangannya, Tomie Yamazaki. Karena itu, novel ini sering dianggap sebagai karya yang paling merepresentasikan pergulatan batin sang penulis.
Mari Kita Bahas
No Longer Human berlatar di Jepang pada masa sebelum dan sesudah Perang Dunia II, mengikuti kehidupan Ōba Yōzō, seorang pria yang sejak kecil merasa berbeda dan tidak mampu memahami cara manusia berinteraksi satu sama lain. Demi menutupi kecemasan dan ketidakmampuannya menjalin hubungan yang tulus, Yōzō memilih mengenakan "topeng" berupa humor dan tingkah laku jenaka agar diterima oleh lingkungan sekitarnya. Namun, di balik citra tersebut, ia terus dihantui rasa kesepian, ketakutan, dan keyakinan bahwa dirinya tidak pantas disebut sebagai manusia. Novel ini menggunakan alur maju yang dikisahkan melalui tiga buku catatan pribadi Yōzō, sehingga pembaca dapat mengikuti perjalanan hidupnya dari masa kanak-kanak hingga dewasa secara intim dan mendalam.
Seiring bertambahnya usia, kehidupan Yōzō semakin terpuruk akibat hubungan yang rumit, kecanduan alkohol, ketergantungan pada obat-obatan, serta berbagai keputusan destruktif yang membuatnya semakin terasing dari masyarakat. Melalui kisah ini, Osamu Dazai mengeksplorasi tema alienasi, krisis identitas, depresi, dan pencarian makna hidup dengan pendekatan yang sangat personal dan emosional. Tidak banyak konflik besar atau kejadian penuh aksi dalam novel ini, karena kekuatan ceritanya justru terletak pada pergulatan batin tokoh utama dan penggambaran kondisi psikologisnya yang kelam. Dengan nuansa melankolis yang kuat serta narasi yang terasa seperti pengakuan pribadi, No Longer Human menjadi sebuah potret menyakitkan tentang seseorang yang merasa gagal menemukan tempatnya di dunia.
Opini Nora
Sepanjang membaca novel ini, aku merasa seperti dihantui oleh rasa hampa, cemas, dan takut yang terus mengikuti Yōzō dari awal hingga akhir cerita. Dazai menuliskan pergulatan batin tokohnya dengan begitu jujur dan tanpa banyak filter, sampai-sampai aku merasa sedang membaca isi kepala seseorang yang perlahan kehilangan harapan terhadap dirinya sendiri dan dunia di sekitarnya. Yang paling membuatku terkesan adalah bagaimana perasaan dan pengalaman yang dialami Yōzō masih terasa sangat relevan hingga saat ini, meskipun novel ini pertama kali terbit lebih dari tujuh dekade lalu. Ketakutan untuk tidak diterima, kesulitan memahami orang lain, kecenderungan menyembunyikan diri di balik topeng demi memenuhi ekspektasi sosial, serta perasaan bahwa diri sendiri berbeda dari kebanyakan orang merupakan hal yang masih banyak dialami oleh manusia modern. Karena itu, meski latar cerita dan zamannya berbeda jauh, emosi yang disampaikan novel ini terasa begitu dekat dan mudah dipahami.
Yang membuat pengalaman membacanya semakin menyakitkan adalah kenyataan bahwa No Longer Human merupakan karya semi-autobiografis Osamu Dazai. Sulit untuk tidak membayangkan bahwa sebagian besar luka, kecemasan, dan keputusasaan yang dituangkan melalui Yōzō mungkin juga pernah dirasakan oleh sang penulis sendiri. Ada perasaan pilu ketika menyadari bahwa kisah ini bukan sekadar fiksi tentang seorang tokoh yang terasing, melainkan juga cerminan dari seseorang yang benar-benar berjuang menghadapi kehidupan. Merasa terasing, dikucilkan, tidak mampu menjadi diri sendiri, dan terus dihantui rasa malu terhadap keberadaan dirinya merupakan makanan sehari-hari bagi Yōzō. Berkali-kali ia mencoba menyesuaikan diri dengan lingkungan, tetapi setiap usaha itu justru membuatnya semakin kehilangan jati diri. Sebagai pembaca, aku tidak selalu setuju dengan keputusan-keputusan yang ia ambil, bahkan beberapa di antaranya terasa frustrasi untuk diikuti. Namun di saat yang sama, aku tidak bisa sepenuhnya membencinya karena aku memahami bahwa banyak tindakannya lahir dari rasa sakit yang tidak pernah benar-benar sembuh. Novel ini bukan bacaan yang menyenangkan dalam arti konvensional, tetapi justru karena ketidaknyamanannya itulah kisah Yōzō terus teringat di benakku bahkan setelah halaman terakhir selesai kubaca.
Rating dari Nora
4/5 ⭐
English Version
Fact about the Book
No Longer Human was published in 1948, only about a month after Osamu Dazai died by suicide alongside his partner, Tomie Yamazaki. Because of this, the novel is often regarded as the work that most closely reflects the author's inner struggles and emotional turmoil.
Here Comes the Review
No Longer Human is set in Japan before and after World War II, following the life of Ōba Yōzō, a man who, from an early age, feels fundamentally different from those around him and struggles to understand how people interact with one another. To hide his anxiety and inability to form genuine connections, Yōzō adopts a "mask" of humor and clownish behavior in order to gain acceptance from society. Beneath this cheerful facade, however, he is constantly haunted by loneliness, fear, and the belief that he is unworthy of being called human. The novel follows a chronological narrative told through three personal notebooks written by Yōzō, allowing readers to intimately witness his journey from childhood to adulthood.
As he grows older, Yōzō's life gradually spirals downward due to complicated relationships, alcohol addiction, drug dependency, and a series of self destructive decisions that push him further away from society. Through his story, Osamu Dazai explores themes of alienation, identity crisis, depression, and the search for meaning in life with a deeply personal and emotional approach. There are few dramatic conflicts or action driven events in the novel, as its true strength lies in the protagonist's internal struggles and the haunting portrayal of his psychological decline. With its melancholic atmosphere and confessional style of narration, No Longer Human becomes a heartbreaking portrait of a man who feels incapable of finding his place in the world.
Nora’s Opinion
Throughout the novel, I felt haunted by the same sense of emptiness, anxiety, and fear that follows Yōzō from beginning to end. Dazai portrays his protagonist's inner turmoil with such raw honesty and little restraint that it often felt as though I was reading the thoughts of someone slowly losing faith in both himself and the world around him. What impressed me most was how relevant Yōzō's feelings and experiences remain today, despite the novel having been published more than seven decades ago. The fear of not being accepted, the struggle to understand other people, the tendency to hide behind a mask to meet social expectations, and the feeling of being fundamentally different from everyone else are experiences that many people still face today. Because of this, even though the story is set in a very different time period, the emotions it conveys feel remarkably immediate and relatable.
What made the reading experience even more heartbreaking was knowing that No Longer Human is a semi autobiographical work by Osamu Dazai. It is difficult not to imagine that much of the pain, anxiety, and despair expressed through Yōzō may have reflected the author's own experiences. There is something deeply saddening about realizing that this is not simply a fictional story about an isolated man, but also a reflection of someone who genuinely struggled with life. Feeling alienated, rejected, unable to be himself, and constantly burdened by shame becomes an everyday reality for Yōzō. Time and again, he attempts to adapt to the people around him, yet each effort only pushes him further away from his true identity. As a reader, I did not always agree with the choices he made, and some of his decisions were frustrating to follow. At the same time, however, I could never fully dislike him because I understood that many of his actions stemmed from wounds that never truly healed. This is not a novel that offers an enjoyable reading experience in the conventional sense, but it is precisely because of its discomfort and emotional weight that Yōzō's story remained with me long after I turned the final page.
Nora’s Rating
4/5 ⭐
Popular Posts
Negeri Para Bedebah by Tere Liye #BookReview - the Books of Ours
- Get link
- X
- Other Apps
Si Anak Spesial by Tere Liye #BookReview - The Book of Ours
- Get link
- X
- Other Apps

Comments
Post a Comment